UFI Global Exhibition Barometer (Edisi ke-36)

Soroti Adaptasi Industri dan Dorongan Pembaruan Format Event

PRESS RELEASEEXHIBITION & CONFERECES

Ich21

1/29/20263 min baca

Ilustrasi : pameran javme2025
Ilustrasi : pameran javme2025

Paris, 29 Januari 2026 — UFI merilis UFI Global Exhibition Barometer edisi ke-36 yang menegaskan industri pameran global terus beradaptasi dengan cepat. Secara umum, tren aktivitas pameran membaik di banyak pasar, profitabilitas diperkirakan tetap solid, dan adopsi kecerdasan buatan (AI) kian meluas. Di saat bersamaan, penyelenggara juga didorong memperkuat “rasa” event—lebih interaktif, lebih engaging, dan lebih bernilai bagi peserta.

UFI (The Global Association of the Exhibition Industry) merupakan asosiasi global industri pameran yang menaungi penyelenggara pameran, operator venue/exhibition centre, asosiasi nasional–internasional, serta mitra industri. UFI juga dikenal lewat label “UFI-approved” yang umum dipakai sebagai penanda kualitas pameran internasional, di Indonsia UFI berafiliasi dengan ASPERAPI atau Assosiasi Perusahaan Pameran Indonesia / IECA (www.ieca.or.id)

Aktivitas 2025 menguat, 2026 diprediksi stabil-positif, Barometer ini mencatat, untuk tahun 2025:

  • 47% responden melaporkan aktivitas pameran di pasar domestik mereka naik lebih dari 5%

  • 42% menyebut kondisi stabil (±5%)

  • 10% menyatakan turun lebih dari 5%

Sementara untuk perkiraan 2026, proyeksinya relatif mirip:

  • 44% memperkirakan aktivitas naik >5%

  • 41% memperkirakan stabil

  • 8% memperkirakan turun >5%

  • 7% menyatakan belum yakin/ data belum tersedia

Pendapatan: sewa ruang & layanan tetap jadi mesin utama

Untuk kinerja pendapatan 2025 dibanding 2024 (berdasarkan kanal revenue pameran), mayoritas perusahaan melihat peluang kenaikan terutama di:

  • Renting space (sewa ruang): 34% memperkirakan naik >5%

  • Selling services (penjualan layanan ke pengunjung & exhibitor, di luar space): 39% memperkirakan naik >5%

Sementara itu:

  • Sponsorship cenderung dinilai stabil oleh 34% responden (dan 24% menyebut sponsorship “tidak relevan” bagi model bisnis mereka).

  • Subsidi: 50% responden menyebut kanal ini “tidak relevan”; jika relevan, mayoritas memperkirakan tetap stabil.

Profit & tenaga kerja: optimisme masih terjaga

Di sisi profitabilitas:

  • 2025: 31% perusahaan melaporkan laba operasional naik >10% dan 57% menyatakan laba stabil (antara -10% s.d. +10%).

  • 2026: 33% perusahaan memproyeksikan laba operasional naik >10% dan 58% memperkirakan laba stabil.

Dari sisi workforce:

  • 39% perusahaan berencana menambah staf

  • 57% berencana mempertahankan jumlah staf

Chris Skeith Managing Director dan CEO UFI menekankan bahwa pertumbuhan terlihat cukup konsisten di banyak pasar, bersamaan dengan percepatan penggunaan AI untuk efisiensi dan customer experience, serta dorongan format event yang lebih engaging.

AI sudah jadi “standar baru”: 87% perusahaan menggunakan AI

Bagian paling kuat dari laporan ini adalah adopsi AI yang makin masif:

  • 87% perusahaan menyatakan sudah menggunakan AI (naik 4% dibanding enam bulan sebelumnya).

  • Rinciannya: 68% menggunakan tools AI standar secara rutin, 15% sudah mengintegrasikan AI ke sistem/platform mereka, dan 4% telah membangun algoritma proprietary berbasis data internal.

  • Artinya, hanya 13% yang menyebut penggunaan AI masih “nyaris tidak ada”.

Menariknya, untuk tingkat “kematangan” (maturity), mayoritas perusahaan global masih berada pada fase researching/testing:

  • 79% pada area efisiensi proses & operasional

  • 70% pada area customer experience

  • 57% pada area menciptakan revenue dari produk/fitur berbasis AI

Format event perlu “upgrade”: interaktivitas jadi kata kunci

Dalam aspek desain event, barometer menunjukkan sinyal yang cukup tegas:

  • 37% responden menilai format pameran perlu ditingkatkan secara menyeluruh

  • 58% menilai kebutuhan peningkatan tergantung jenis pameran

  • hanya 6% yang menilai tidak perlu perubahan

Ketika ditanya fitur apa yang paling meningkatkan pengalaman peserta, prioritas teratas adalah:

  • 22%: membuat pengunjung lebih terlibat (demo produk, kompetisi, gamification, dll.)

  • 22%: format learning yang lebih interaktif & engaging

  • 16%: aktivitas sosial / social events

  • 13%: pembaruan look & feel (sound, lighting, signage)

  • 11%: perubahan layout show

  • 10%: themed days untuk event multi-hari

  • 7%: menghadirkan big-name star speakers

Isu bisnis utama: ekonomi dan geopolitik masih membayangi

Dalam 12–18 bulan ke depan (short-term), isu paling dominan secara global adalah:

  • 19%: kondisi ekonomi di pasar domestik

  • 16%: perkembangan ekonomi global

  • 16%: tantangan geopolitik

  • 12%: kompetisi di dalam industri pameran

  • 11%: tantangan manajemen internal

  • 9%: dampak digitalisasi

  • sisanya: regulasi/stakeholder (6%), sustainability/iklim (5%), kompetisi dengan media lain (5%)

Sementara untuk 3–5 tahun ke depan (mid-term), urutannya berubah:

  • 20%: perkembangan ekonomi global

  • 16%: tantangan geopolitik

  • 13%: kondisi ekonomi di pasar domestik

  • 11%: kompetisi di dalam industri

  • diikuti: sustainability/iklim (10%), digitalisasi (9%), dan beberapa faktor lain masing-masing sekitar 7%.

Apakah ada data khusus Indonesia?

Laporan ini berbasis data dari 378 perusahaan di 57 negara/kawasan dan menampilkan profil khusus untuk 19 focus markets (termasuk Malaysia, Thailand, China, India, UAE, UK, USA, dan lainnya). Indonesia tidak termasuk dalam daftar focus market, sehingga tidak ada breakout angka Indonesia secara spesifik pada edisi ini.

Apa artinya untuk industri MICE Indonesia?

Walau tanpa angka Indonesia, arahnya relevan untuk pelaku MICE nasional:

  1. AI jadi baseline kompetisi — bukan lagi sekadar “tambahan”. Penggunaan AI paling cepat terasa dampaknya untuk matchmaking, personalisasi agenda/konten, customer service, analisis traffic, serta lead scoring.

  2. Event harus terasa hidup — tren global menegaskan interaktivitas dan learning experience jadi magnet. Aktivasi yang mengajak peserta terlibat cenderung lebih “nempel” dan meningkatkan value per attendee.

  3. Ekonomi & geopolitik tetap faktor utama — implikasinya di Indonesia akan terasa pada strategi pricing booth, paket sponsorship, serta kemampuan exhibitor mengalokasikan anggaran aktivasi.

Barometer ini memotret industri pameran global yang tetap bertumbuh, dengan AI yang makin mainstream dan tuntutan format event yang lebih engaging. Untuk Indonesia, sinyalnya jelas: percepat adopsi teknologi yang berdampak langsung pada operasional dan pengalaman peserta, sambil memperkuat format pameran yang interaktif dan bernilai.

sumber :
UFI_Media_Release_36_Barometer_Report
https://www.ufi.org/

https://www.ieca.or.id/