Indonesia Sukses Gelar WCCE 2026
Luncurkan Tiga Inisiatif Ekonomi Kreatif
EXHIBITION & CONFERENCE
RANI
10/25/20262 min baca


JAKARTA — Indonesia sukses menggelar The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 yang menghasilkan pengesahan Jakarta Vision on Creative Economy, penetapan Glasgow, Inggris Raya, sebagai tuan rumah WCCE 2028, serta peluncuran tiga inisiatif strategis untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif nasional.
Dalam konferensi yang berlangsung pada 21-23 Oktober tersebut, negara-negara peserta mengesahkan Jakarta Vision on Creative Economy sebagai landasan kerja sama internasional untuk memperkuat ekonomi kreatif. Dokumen ini mencakup perluasan akses terhadap teknologi digital, perlindungan kekayaan intelektual, remunerasi yang adil bagi kreator, serta peningkatan akses pendanaan dan investasi. Pada kesempatan yang sama, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyampaikan Glasgow, Inggris Raya, sebagai tuan rumah WCCE 2028.
Selain menghasilkan kesepakatan internasional, WCCE 2026 menjadi momentum bagi Kementerian Ekonomi Kreatif untuk meluncurkan tiga inisiatif, yakni Creative Economy Data Model (CEDM) bersama World Intellectual Property Organization (WIPO), Indonesia Creative Economy Outlook 2026-2027 bersama Katadata, serta Ekraf Academy sebagai platform pengembangan talenta ekonomi kreatif.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan, pengembangan ekonomi kreatif membutuhkan data yang kuat untuk memetakan potensi, mengidentifikasi kesenjangan, dan menentukan arah kebijakan.
“Potensi ekonomi kreatif harus didukung data yang kuat untuk memahami ekosistem, mengidentifikasi kesenjangan, dan mengarahkan kebijakan yang lebih tepat. Melalui inisiatif kolaboratif ini, kita ingin memastikan bahwa pengetahuan dan data dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata bagi pengembangan ekonomi kreatif Indonesia,” ujar Teuku Riefky.
Berdasarkan paparan Indonesia Creative Economy Outlook 2026-2027, sektor ekonomi kreatif Indonesia pada 2025 tumbuh sekitar 6,8 persen, menyerap 27,4 juta tenaga kerja, dan menghasilkan ekspor senilai 31,9 miliar dollar AS.
CEDM dikembangkan untuk membantu memetakan ekosistem ekonomi kreatif, mengidentifikasi kekuatan dan kesenjangan, serta menentukan prioritas intervensi. Adapun Indonesia Creative Economy Outlook menyajikan gambaran perkembangan sektor tersebut sebagai dasar untuk mengidentifikasi peluang pertumbuhan dan merumuskan kebijakan.
Dalam pesan video pada acara tersebut, Sacha Wunsch-Vincent dari WIPO menekankan pentingnya menindaklanjuti hasil kajian melalui kebijakan dan implementasi berkelanjutan. Laporan dan pemeringkatan, menurutnya, akan memberikan dampak apabila digunakan untuk memperbaiki kebijakan, memperkuat koordinasi antarkementerian, dan memantau kemajuan secara berkala.
Selain penguatan data dan riset, pengembangan talenta menjadi fokus melalui Ekraf Academy. Platform ini dirancang untuk mendukung pembelajaran secara luring, daring, dan hibrida melalui tiga pilar, yakni creative leadership untuk memperkuat ekosistem kreatif daerah, creative talent untuk meningkatkan kompetensi, serta creative entrepreneurshipuntuk membantu pelaku usaha mengembangkan bisnis dan menjangkau pasar global.
Teuku Riefky menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi kreatif juga perlu diikuti peningkatan nilai ekonomi yang diterima kreator dari karya mereka.
“Pertumbuhan saja tidak cukup. Kita ingin para kreator memperoleh nilai yang lebih besar dari karya dan kreativitasnya, sekaligus membangun mata pencaharian yang berkelanjutan. Jadi, pengembangan talenta, penguatan kekayaan intelektual, akses pembiayaan, dan perluasan pasar harus berjalan bersama,” katanya.
Dalam rangkaian WCCE 2026, Kementerian Ekraf juga menandatangani nota kesepahaman dengan 30 perguruan tinggi dan satu komite ekonomi kreatif. Kerja sama ini diarahkan untuk memperkuat pengembangan sumber daya manusia, riset, serta pengembangan dan komersialisasi usaha kreatif.
WCCE 2026 mengusung tema Inclusively Creative: Collective Continuity dan melibatkan perwakilan dari lebih dari 82 negara serta tujuh organisasi internasional, termasuk 38 kepala delegasi dan 183 pembicara serta moderator. Penyelenggara mencatat 7.639 peserta mengikuti konferensi, sementara Creativillage menarik lebih dari 20.000 pengunjung.
Creativillage yang menampilkan produk-produk kreatif unggulan Indonesia berlangsung hingga Minggu (25/10), bertepatan dengan peringatan Hari Ekonomi Kreatif Nasional pada 24 Oktober.






